Kecerdasan Sosial


kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya. Orang dengan kecerdasan sosial tinggi tidak akan menemui kesulitan saat memulai suatu interaksi dangan seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok kecil maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan kemampuan otak dan bahasa tubuhnya untuk “membaca” teman bicaranya. Kecerdasan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Dalam bentuk yang lebih maju, kecerdasan ini memungkinkan orang dewasa membaca kehendak dan keinginan orang lain, bahkan ketika keinginan itu disembunyikan. Kecerdasan sosial ini juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, segala kesalahan, dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi. Semua keterampilan itu membolehkan seseorang dengan kecerdasan sosial tinggi sanggup berperan sebagai teman bicara dan sekaligus pendengar yang baik, serta sanggup berhubungan dengan banyak orang.

Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk meningkatkan kecerdasan sosia

Mendengarkan aktif

Bila seseorang menunjukan tanda-tanda ketertarikan dan ingin mengenal kita lebih dalam, kitapun dapat tertarik dan bersikap baik padanya. Cara terbaik, termudah, dan paling efektif untuk menunjukan kita tertarik pada sesorang adalah bersedia ‘mendengarkan’ apapun yang diucapkanya. Mendengarkan disini berbeda dengan sekedar mendengar. Mendengarkan artinya kita mendengarkan apa keluhanya, apa ide-idenya, harapan-harapanya, perasaan-perasaan yang terlontarkan, bahkan juga bahasa tubuhnya. Itulah yang dinamakan “mendengarkan aktif”. Ingatlah bahwa kita dikaruniai satu mulut dan dua telinga, kita perlu cepat untuk mendengar dan lambat berkata-kata. Artinya, kita perlu lebih banyak mendengar daripada berbicara.

kecerdasan sosial, yaitu kecerdasan yang terbentuk ketika hendak membangun sebuah relasi yang produktif dan harmonis. Selain dapat membangkitkan solidaritas sosial, hikmah ibadah puasa dapat meningkatkan kualitas relasi dengan sesama, seperti kerabat, tetangga, rekan kerja atau atasan. Relasi ini sangat mungkin berjalan dengan baik jika seseorang mampu mendemonstrasikan sejumlah elemen penting dalam kecerdasan sosial.

Terdapat lima elemen kunci kecerdasan sosial, yaitu: pertama, situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Contoh, orang yang merokok di ruang ber-AC tanpa merasa bersalah adalah orang yang tidak memiliki kesadaran situasional.

Kedua, presense atau kemampuan membawa diri. Bagaimana etika penampilan, tutur kata, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.

Ketiga, authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku seseorang yang akan membuat orang lain menilainya sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan ketulusan. Elemen ini amat penting, sebab hanya dengan aspek inilah seseorang dapat membentangkan relasi yang mulia dan bermartabat.

Keempat, clarity (kejelasan). Aspek ini menjelaskan sejauh mana seseorang dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan idenya secara renyah dan persuasif, sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Sering seseorang memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara lebih tepat, sehingga atasan atau rekan kerja tidak berhasil diyakinkan.

Kelima, empathy (atau empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana seseorang dapat berempati pada gagasan dan penderitaan orang lain. Sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan, memahami pemikiran orang lain, dan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan orang lain. Perasaan lapar dan haus dapat ditindaklanjuti dengan semangat kedermawanan melalui zakat, infak, sedekah dan ibadah sosial lainnya.

Orang Indonesia banyak yang pintar dan berpendidikan tinggi. Banyak yang lulus cum laude, menjadi juara tingkat internasional, dan sebagainya. Pengusaha sukses, artis berbakat, ilmuwan genius, politikus andal. Semua kita miliki. Tapi mengapa bangsa kita “begini-begini” saja? Apakah kita bermasalah dengan kecerdasan sosial dan emosional?

Seorang sahabat pernah berkata, “Orang Indonesia itu banyak yang mengejar skill dan knowledge saja, tapi behaviour-nya nol.” Sahabat tersebut sendiri berpendidikan S3, namun setahu saya behaviour alias perilakunya cukup baik. Yang dimaksud dengan perilaku nol adalah, banyak orang berpendidikan tinggi tapi kurang mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain aibat berperilaku kurang menyenangkan. Jika boleh disimpulkan, banyak orang sekadar mengejar Intelligence Quotient (IQ) tapi mengesampingkan Emotional Quotient (EQ), yakni kecerdasan emosional.

Interpersonal

Walau baru digulirkan secara populer oleh Daniel Goleman melalui bukunya Emotional Intelligence pada awal tahun 2000, sesungguhnya konsep kecerdasan emosional bukan barang baru. Akar dari konsep ini berasal dari Charles Darwin yang digagas dari pentingnya ekspresi emosional bagi adaptasi dan pertahanan. Awal 1920-an, E. L. Thorndike dari Columbia University, menggunakan terminologi kecerdasan emosional untuk menjelaskan keahlian memahami dan mengatur manusia lain oleh manusia.

Kecerdasan sosial dipaparkan oleh Goleman sebagai hubungan interpersonal, baik buruk atau baik, memiliki kekuatan untuk membentuk otak kita dan memepangaruhi sel-sel tubuh. Lebih jauh, hubungan ini berimbas pada sistem imunitas dan usia manusia.

Di era modern ini, kebutuhan akan kemampuan berperilaku positif makin disadari di samping sekadar pendidikan tinggi intelektual. Maka bermunculanlah sekolah kepribadian, kursus table manner, dan sebagainya, demi menghasilkan manusia yang bukan saja cerdas intelektual, tapi juga emosional dan sosial. Namun, apakah betul semua pendidikan perilaku tadi menjamin seseorang akan memiliki EQ yang baik?

Sahabat lain pernah beropini bahwa sekolah kepribadian hanya sekadar memberi dasar-dasar etika, norma-norma dan standar perilaku yang baik. Selebihnya akan kembali kepada manusianya, apakah memang mampu mengembangkan kecerdasan emosionalnya atau tidak. Jika tidak, kendati mengecap pendidikan kepribadian sampai puluhan tahun pun, kecerdasan emosionalnya tak membaik dan perilakunya tetap saja tak sesuai yang diharapkan.

Saya setuju, bahwa sekolah kepribadian sekadar pemoles belaka. Tutur kata halus, sopan santun, lemah gemulai, pandai bermain kata, menurut saya bukanlah jaminan bahwa seseorang memiliki kecerdasan emosional dan sosial. Sebab buktinya di sekitar kita banyak manusia dengan penampilan santun dan tutur kata manis, nyatanya tak sejalan dengan moralitasnya. Katakan saja, banyak orang bertutur kata halus dan santun namun diam-diam masih korupsi, memfitnah, bahkan menjadi dalang kejahatan. Hal seperti ini pastinya jauh dari pemahaman manusiawi alias humanis.

Motivator

Hal serupa terjadi pada beragam kursus yang ditawarkan para motivator yang kini bermunculan bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama Mario Teguh, Andri Wongso, atau yang lebih mengarah ke etika bisnis seperti Hermawan Kertajaya, Reinald Khasali, Safir Senduk, dan banyak lagi. Betul, mereka memberi panduan bagaimana mengendalikan kecerdasan emosional, mengembangkan kecerdasan sosial, menumbuhkan motivasi positif. Tapi apakah sebuah jaminan seseorang akan memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang baik setelah mengikuti semua pengarahannya?

Orang dengan kecerdasan emosional dan sosial rendah, cenderung sulit berinteraksi dengan sesamanya. Kalaupun bisa, tentu dengan tingkat pemahaman yang rendah. Bisa dicontohkan, orang yang hebat di bidang politik, tapi kurang peka pada masalah sosial. Atau orang yang mahir 10 bahasa, menguasai semua program komputer, namun tak mampu memahami perasaan lawan bicara. Bisa juga pengusaha sukses, canggih dalam berbisnis, sayangnya tak peduli bahwa di luar sana banyak orang jadi korban bisnisnya. Dan seterusnya. Itulah yang kita alami saat ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah IQ-nya rendah, pendidikannya rendah, plus EQ rendah pula? Namun di sisi lain, saya yakin, manusia dengan IQ dan pendidikan rendah masih bisa sukses hidupnya jika memiliki EQ dan SQ yang baik. Bahkan lebih sukses dari yang ber-IQ tinggi tapi EQ dan SQ-nya rendah.

Orang Indonesia pintar, berpendidikan tinggi, andal berpolitik, sukses berbisnis, sudah banyak sekali jumlahnya. Tapi apakah mereka punya kecerdasan sosial dan emosional yang mampu membuat bangsa ini lebih baik? Maaf, kecerdasan sosial, emosional dan intelektual saya pribadi juga masih rendah. Mari kita bersama-sama memperbaikinya.

 

http://sastraamijaya.wordpress.com/2009/03/18/kecerdasan-sosial/

http://en.wikipedia.org/wiki/Emotional_intelligence

http://www.leadershipnow.com/leadershop/0553803522.html

http://www.danielgoleman.info/

http://netsains.com/2007/11/orang-indonesia-sudah-cerdas-sosial-dan-emosional/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • %d bloggers like this: