Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.

 

Mengapa begitu penting? Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, masihkah berharap bahwa keputusan dan tindakan kita juga baik?

 

Dari berbagai literatur, saya menemukan ada 5 dasar kecerdasan emosional. Kelima dasar itu adalah

Mengetahui perasaan Anda dan menggunakannya untuk membuat keputusan dalam hidup Anda.

Mampu mengatur kehidupan emosional Anda tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti depresi, marah, kebingungan, dan sebagainya.

Bertahan dalam menghadapi kemunduran dan menyalurkan dorongan Anda untuk mengejar tujuan-tujuan Anda.

Empati – membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu Anda apa yang mereka rasakan.

Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat

 

Lalu siapa teladan kita dalam hal kecerdasan emosi? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, teladan kita adalah Rasulullah saw. Banyak literatur yang membahasnya, tetapi Al Quran dan Hadits-lah sumber rujukan utama kita.

 

Jika kita meneladani bagaimana cara Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang sekitar beliau, dengan keluarga, bahkan dengan orang-orang yang menentang beliau, kita bisa petik bagaimana kecerdasan emosi beliau yang mengagumkan. Itulah praktek utama kecerdasan emosi.

 

Kecerdasan emosi (dan pelayanan kesehatan) Kecerdasan emosi sudah menjadi suatu tolok ukur utama yang dicari oleh perusahaan pada pegawainya dan sering merupakan karakteristik penentu kesuksesan dalam kerja. Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menerapkan pengetahuan dari emosi diri dan emosi orang lain agar bisa lebih berhasil dan bisa mencapai kehidupan yang lebih memuaskan. Dokter dan mahasiswa kedokteran, juga ilmuwan sudah diakui adalah di antara orang-orang yang paling cerdas di masyarakat kita. Umumnya mereka menunjukkan kinerja yang hebat sebagai praktisi individual atau peneliti mandiri. Sebagian di antara mereka mencapai kedudukan sebagai pemimpin program dan departemen klinik atau ilmu dasar, dekan fakultas kedokteran, direktur rumah sakit dan sistem kesehatan. Umumnya mereka juga menunjukkan kinerja yang baik dalam peran kepemimpinannya, tetapi ada juga yang masih harus berjuang dan ada juga yang gagal. Tampaknya kecerdasan kognitif bukanlah prediktor yang baik untuk keberhasilan kepemimpinan. Prediktor sukses yang lebih relevan adalah kecerdasan emosi. Ada 3 macam kompetensi dalam bidang kepemimpinan: ketrampilan teknis, kemampuan kognitif, dan kemampuan mengombinasikan pemikiran dan emosi yang dikenal sebagai kecerdasan emosi. Kompetensi teknis dan kognitif yang menentukan kehebatan ilmiah tidak sama dengan kompetensi yang menentukan kehebatan kepemimpinan. Ketrampilan kecerdasan emosi bisa dipelajari. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diperhatikan: apabila kita menerapkan pendekatan pelatihan biasa untuk meningkatkan ketrampilan teknis dan analitis, itu akan gagal. Program konvensional tidak mencakup faktor-faktor yang membuat sistem limbik (pusat emosi di otak) belajar dengan cara terbaik, yaitu faktor motivasi, praktek yang banyak, serta umpan balik. Mengembangkan ketrampilan kecerdasan emosi menuntut agar orang meninggalkan tingkah laku lama dan mengambil yang baru. Penelitian mengenai kecerdasan emosi telah menunjukkan bahwa ketrampilan teknis dan kognitif hanyalah ketrampilan dasar atau ambang untuk profesi seperti teknik, hukum, dan kedokteran. Ketrampilan-ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosilah yang terbukti dapat membedakan antara orang yang berkinerja tinggi dan yang rata-rata. Model kepemimpinan kedokteran harus didasarkan atas paradigma baru, bahwa semua dokter, meskipun mungkin dapat kehilangan otonomi atau bahkan status, sebenarnya adalah pemimpin “tersembunyi” dengan kekuatan terpendam dan pengaruh yang besar terhadap sistem. Sebagai pemimpin organisasi medis, mereka bertanggung jawab atas hasil yang diperoleh bersama dengan pegawai perawatan kesehatan lainnya, juga bersama pasien. Dalam realitas, dokter adalah pemimpin dari “tim peduli-konsumen”. Akan tetapi, berapa banyak donter yang memandang dirinya sebagai pemimpin? Jadi, kita harus mengubah paradigma dalam memahami peran kepemimpinan yang dimainkan oleh dokter. Dan kita harus menyadari bahwa karakteristik yang membedakan antara pemimpin yang hebat dari yang biasa-biasa saja tidaklah berasal dari kompetensi teknis dan kognitif melainkan dari kompetensi emosional serta manajemen hubungan yang lihai. Perubahan paradigma ini menuntut adanya pergeseran dari model heroik pelatihan medis menuju kepada model yang didasarkan atas kompetensi emosional, kolaborasi dan kerja tim, serta pendekatan pendidikan yang mendukung suatu lingkungan dimana orang bisa menumbuh-kembangkan perasaan penguatan diri. Untungnya, orang dewasa bisa mengembangkan kemampuan kecerdasan emosi melalui berbagai kegiatan pengembangan yang berlangsung dalam pelatihan dan pendidikan. Berdasarkan kompetensi ini, dokter dapat memperbarui perasaan bahwa ia dalam kondisi baik, mendapatkan kembali pengaruhnya dengan cara sedemikian rupa sehingga kepercayaan orang lain pun terbarui, meningkatkan hubungan dengan mitra pelayanan kesehatan yang lain (kolega dan administrator) serta dengan pasien, dan meningkatkan hasil dari bisnis pokoknya. Di dalam paradigma baru ini, dokter bisa menjadi pemimpin yang lebih efektif, memaksimalkan pengaruhnya serta kontribusi yang dapat diberikannya sebagai profesional yang berhubungan dengan seluruh bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Kecerdasan emosi adalah istilah untuk mendeskripsikan serangkaian kemampuan, kompetensi, dan ketrampilan non-kognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil menghadapi tuntutan dan tekanan lingkungan. Oleh karena itu, kecerdasan emosi merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan seseorang untuk berhasil dalam hidupnya. Kecerdasan emosi dewasa ini dipandang sebagai hal yang mendasar untuk bertahan di lingkungan kerja dan merupakan kemampuan utama dalam kepemimpinan dan manajerial. Pelayanan kesehatan membutuhkan pemimpin dengan kecerdasan emosi yang tinggi. Sebagian dari masalah terpenting yang dihadapi oleh masyarakat adalah masalah yang terkait dengan kesehatan. Administrator kesehatan harus berjuang memberikan layanan yang berkualitas bagi konsumennya walaupun dengan sumberdaya keuangan dan manusia yang terbatas. Bagaimana kita bisa memberikan layanan kesehatan yang baik di saat sebagian besar masyarakat kita tidak mampu membayar? Pertimbangan bioetika sekitar genetika manusia, perlindungan pasien, serta privasi membutuhkan administrator pelayanan kesehatan yang berwawasan jauh melampaui kebutuhan jawaban seketika dan memahami kemungkinan dampak jangka panjang terhadap individu. Agar kita bisa memiliki kepekaan terhadap isu yang sangat manusiawi ini dan menanggapinya secara efektif dibutuhkan adanya pemimpin dengan kecerdasan emosi yang tinggi. Ringkasan Kecerdasan umum terdiri atas kecerdasan kognitif atau intelektual, yang diukur dengan IQ, dan kecerdasan emosi yang diukur dengan EQ. Orang yang dapat berperan dengan baik, berhasil, dan sehat secara emosi adalah yang memiliki kecerdasan emosi cukup tinggi serta skor EQ yang rata-rata atau di atas rata-rata. Semakin tinggi skor EQ, semakin positif prediksi bahwa pemiliknya akan mendapatkan keberhasilan umum dalam menghadapi tuntutan serta tekanan lingkungan. Sebaliknya, ketidakberhasilan dan adanya masalah emosional merupakan fungsi dari besarnya kelemahan kecerdasan emosi. Skor EQ, kalau dipadukan bersama skor IQ, akan memberikan indikasi yang lebih baik mengenai kecerdasan umum seseorang dan karenanya memberikan indikasi yang lebih baik mengenai potensi seseorang untuk berhasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • %d bloggers like this: